Background

Teknik Fotografi Profesional

Artikel ini akan membawa kita untuk mempelajari lebih dalam tentang teknik fotografi profesional yang sering digunakan fotografer master dalam membidik foto. Dengan demikian, kamu bisa meng-explore teknik fotografi lebih banyak lagi dengan pengetahuan yang lebih luas di bidang fotografi.

Berikut adalah berbagai teknik fotografi :

1. Fotografi HDR (High Dynamic Range)




HDR adalah serangkaian teknik yang digunakan dalam bidang fotografi untuk memproduksi sebuah jangkauan cahaya dinamis yang lebih besar dibanding menggunakan teknik fotografi standar. Kamera non-HDR hanya bisa mengambil gambar dengan jangkauan pencahayaan terbatas, hasilnya kurang detail pada area gelap atau terang. Sementara teknik HDR mampu menutupi kekurangan ini dengan mengambil banyak foto pada tingkat pencahayaan berbeda dan menggabungkannya untuk menghasilkan foto dengan jangkauan tone yang lebih luas. Foto HDR dapat diolah di Photoshop atau PhotoMatrix.

Berikut beberapa tips singkat memotret High Dynamics Range (HDR), supaya foto HDR yang anda hasilkan nantinya bisa lebih bagus :

  • Gunakan fitur bracketing yang ada di kamera SLR digital anda. Dengan menggunakan fitur bracketing, kamera akan secara otomatis menaik-turunkan nilai eksposur (stop) dengan sangat cepat, jauh lebih nyaman dibanding tangan kita harus sibuk memutar tombol dial.
  • Ambil 3,5 atau 7 jepretan. Kebanyakan foto HDR pada kondisi normal dihasilkan dari 5 foto dengan nilai eksposur berbeda dan kemudian digabungkan. Jika anda menghadapi obyek foto dengan beda gelap-terang yang terlalu mencolok, ambil 7 eksposur sekaligus sehingga hasilnya lebih bagus lagi
  • Jangan mengubah-ubah nilai aperture dalam satu seri pemotretan untuk sebuah obyek. Setel mode eksposur pada posisi Aperture Priority (A atau Av) untuk menjamin ketajaman hasil akhir foto HDR. Jika anda mengubah-ubah nilai aperture, maka fokus kamera juga akan berubah, sehingga daerah tajam foto menjadi tidak konsisten
  • Gunakan matrix metering atau evaluative metering dimana kamera akan mengukur semua elemen dalam obyek foto sebelum menentukan berapa besaran eksposur yang dibutuhkan
  • Pakailah tripod untuk menjamin hasil akhir foto tidak kabur. Dengan menggunakan tripod, foto kita akan lebih tajam karena konsisten dari satu jepretan ke jepretan berikutnya. Jika anda memiliki shutter release, pakai sekalian.
  • Jika memungkinkan, gunakan format RAW saat memotret HDR.

2. Fotografi High Speed


Fotografi High Speed pada dasarnya adalah teknik menangkap gambar dengan shutter yang sangat cepat. Shutter speed untuk fotografi high speed jauh lebih cepat, 1/8000 detik. Denganshutter speed yang lebih cepat, fotografer bisa membekukan momen dan menghilangkanblur. Mengambil high speed foto harus menggunakan lensa dengan aperture yang lebar, pencahayaan yang terang atau ketepatan pengaturan ISO. Ditambah lagi kamera harus memiliki sensor yang baik, shutter, dan lampu sorot yang baik.
Baiklah, pada tutorial ini saya akan mencoba untuk menceritakan pengalaman saya ketika membuat foto2 Waterdrop. 

  • Pertama kali saya hanya menggunakan lampu belajar dan lampu 20 watt solusi paling murah.  Triknya, anda harus mendekatkan lampu neon anda sedekat mungkin ke objek yang akan difoto, pada foto ini saya hanya bermodalkan 1 cangkir, pewarna makanan (sekitar 7 ribuan di supermarket) dan pipet untuk menjatuhkan air. Untuk mencapai shutter dengan kecepatan tinggi disini (antar 1/800 s/d 1/1000), diafragma antara f/5.6 atau f/8, disini saya harus menaikkan ISO kamera sampai dengan 1600 (yang mana foto anda akan menjadi lebih noise/bintik2). Ketika tetesan airnya jatuh, anda tinggal menekan kabel remote shutter untuk menangkap fotonya.
  • Hasil dari persiapan diatas fotonya seperti ini (foto menara air dengan warna Merah dan putih) 
  • Pipet untuk menjatuhkan air saya dapatkan dari obat Tempra yang berfungsi untuk meneteskan obat pada bayi, harganya sekitar 8 ribuan di apotik. Tangan kiri saya memegang pipet, dan tangan kanan untuk menekan tombol trigger 
  • Di sesi pertama ini, saya juga mencoba membeli lampu 45 watt tetapi hasilnya mengecewakan, kecepatan shutter hanya bertambah sedikit. Walaupun saya menggunakan lampu 45 watt ditambah dengan 20 watt, tetap saja tidak terlalu berpengaruh pada kecepatan shutter 
  • Pada sesi kedua, saya mencoba dengan lebih banyak alat dan lebih rumit, misalnya dengan menambahkan ember, botol susu, Flash External,Flash Trigger dan Flash Diffuser.
  • Dengan botol susu sebagai alat untuk meneteskan air, anda akan mendapatkan titik fokus yang lebih akurat, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan foto yang tajam lebih besar kemungkinannya dibandingkan dengan percobaan sebelumnya. Selain botol susu, anda juga bisa memakai alat lain misalnya alat Infus atau yang lainnya, kebetulan botol susu ini saya dapatkan dari botol susu anak saya yang sudah tidak terpakai (sebaiknya minta ijin dulu sebelum istri anda marah2). Untuk metode botol susu, anda harus membuat lubang dibawah botolnya agar airnya menetes terus seperti gambar disini.
  • Untuk menentukan titik fokus, pindahkan fokus kamera anda ke manual agar kamera anda tidak bingung mencari cari fokus ketika airnya dijatuhkan , bisa dilihat pada gambar kalau disini menggunakan penggaris dengan kartu nama bekas yang dilipat sehingga kita bisa mengatur secara manual untuk titik fokus yang kita inginkan (jika di view finder/display anda ada view zoom digital misalnya 5x atau 10x, pakailah fitur tersebut), fokuskan ke tempat dimana air anda akan jatuh.
  • Teorinya, jika anda menempatkan suatu benda berwarna diatas waterdropnya maka warna dari objek tersebut akan muncul diwaterdrop yang akan difoto.
  • Dengan Flash, anda bisa mengatur shutter dikamera anda dengan kecepatan normal sync flash antara 1/100 s/d 1/200, walaupun kecepatannya lebih lambat dari 1/800 tapi cahaya dari Flash mempunyai cahaya yang jauh lebih kuat daripada lampu biasa untuk memberhentikan tetesan air. Pada setting flash, saya mengatur kekuatan flashnya menjadi 1/8 dari kekuatan full flash. Anda bisa bereksperimen berapa nilai output flash anda untuk menghasilkan cahaya yang anda inginkan. Untuk diafragma, saya mengatur antara f/8 atau f/11 agar ketajaman fotonya maksimal, tentu saja anda dapat mencoba di f/16 atau lebih agar mendapatkan titik fokus yang lebih lebar (ingat, semakin besar nilai diafragma, semakin banyak cahaya yang dibutuhkan). Untuk ISO saya bisa menggunakan ISO 100 untuk menghindari noise/bintik2 pada foto. 
  • Kabel trigger shutter di kamera digunakan disini agar dapat mendapatkan timing yang tepat sewaktu tetesan airnya jatuh kedalam ember. Disini dibutuhkan latihan reflek agar mendapatkan moment yang benar2 bagus.

3. Fotografi Soft Focus




Foto soft focus dihasilkan dengan menggunakan kamera khusus yang menciptakan garis lembut di foto sedikit buram dan garis tepi yang tajam. Gaya foto ini sering diibaratkan dengan dreamy atau glamour style yang banyak digunakan untuk fashion atau wedding photography. Ada beberapa kamera modern yang dapat menghasilkan foto soft focus. Atau kamu bisa menggunakan cara yang lebih ekonomis dengan meletakkan lensa soft focus di depan lensa biasa kemudian memberikan efek di photoshop.

4. Fotografi Infrared




IR fotografi adalah seni menangkap cahaya yang tak terlihat, sehingga disebut spektrum warna Infra Red. Saat ini sangat memungkinkan untuk memotret IR menggunakan kamera digital. Untuk menghasilkan foto IR, kamu memerlukan filter IR dan juga tripod. Di sini tripod berfungsi sebagai stabilizer saat memotret dengan menggunakan shutter speed yang lambat dan exposure kecil.

Berikut beberapa tips singkat memotret foto infrared, supaya foto yang anda hasilkan nantinya bisa lebih bagus:

  • Periksa Apakah Kameramu Bisa Menangkap Sinar IR


Sebelum kamu memutuskan untuk membeli filter IR, sebaiknya periksa dulu kamera yang digunakan karena beberapa model kamera tidak bisa menangkap sinar IR. Cara mudah untuk melakukan ini adalah gunakan live view pada kamera, lalu arahkan remote control (TV, DVD player, tape deck, apa saja) ke arah lensa lalu tekanlah sembarang tombol. Jika kamu melihat cahaya merah berkedip, berarti kameramu bisa menangkap sinar IR dengan cukup baik.

Jika cahayanya redup, ini berarti kameramu bisa menangkap sinar IR, tapi dibutuhkan waktu exposure yang sangat lama saat memotret nanti karena kameramu punya filter penangkal IR yang kuat.

Jika tidak tersedia live view pada kameramu, gunakan pengaturan long exposure, lalu mulailah memotret sambil mengarahkan remote ke arah lensa. Hasil foto akan menunjukkan apakah ada atau tidak cahaya merah yang tertangkap. Jika kamu tidak melihat apapun dari remote, berarti kameramu tidak bisa menangkap sinar IR dan tutorial ini tidak bisa dikerjakan.

  • Membeli Filter

Setelah kamu yakin kameramu bisa menangkap sinar IR, saatnya memilih filter lensa. Ada beberapa pilihan yang tersedia, ada yang dipasang (screw in) semacam merk Hoya, dan filter persegi (square) dari Cokin.

Filter screw-in lebih baik untuk digunakan membuat foto infrared, tapi cenderung lebih mahal. Sebaiknya belilah merk yang sudah cukup populer untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hoya R72 adalah yang umum digunakan dan harganya bervariasi tergantung ukurannya.

Filter square memiliki kelebihan bisa dipasang dan dilepas dengan mudah. Filter IR jenis ini bisa digunakan dengan baik, tapi ada risiko munculnya bocoran cahaya (light leaks) dari sela-sela filter yang akan merusak kualitas foto. Harganya lebih terjangkau dibandingkan yang tipe screw-in.

  • Gelombang & Pilihan Infrared Lainnya

720nm (nanometer) adalah gelombang IR standar. Maka, paling bagus untuk memulai dengan gelombang ini (itu sebabnya filter diberi nomer R72). Ada juga gelombang lain seperti model 900nm (RM90), tapi harganya luar biasa. Ini adalah filter untuk mereka yang benar-benar serius dan berdedikasi pada fotografi IR.

Ada pilihan lain untuk fotografi IR kalau kamu tidak ingin menggunakan filter. Kamu bisa menkonversi kamera digitalmu secara permanen untuk menangkap spektrum IR. Kamu bisa meminta bantuan profesional untuk melakukannya, atau kalau kamu cukup berpengalaman di bidang teknik, banyak tutorial yang akan membantumu melakukannya sendiri.
Kalau kamu berniat melakukannya sendiri, saran saya, gunakan kamera sakumu yang sudah agak tua (tapi tentu periksa dulu apakah ia bisa menangkap sinar IR). Karena sekali kamu mengkonversi kamera digital untuk dijadikan kamera IR, maka ia tidak akan bisa lagi digunakan untuk foto normal. Intinya adalah melepas filter “hot mirror” dari depan sensor kamera yang menghalangi masuknya sinar IR. Kemudian diganti dengan sebuah filter IR atau kaca optik dengan ukuran dan ketebalan yang sama (jika kamu memilih kaca, maka filter IR eksternal juga dibutuhkan). Jadi, lakukan dulu sedikit riset sebelum memutuskan untuk melakukan pilihan ini.

  • Peralatan Tambahan

Setelah kameramu siap (apakah itu dengan filter lensa atau metode konversi), saatnya memotret. Tapi, karena fotografi IR cenderung membutuhkan exposure yang lama, maka tripod dan remote release sebaiknya digunakan juga untuk mencegah munculnya goyangan. Tapi penggunaan remote bisa digantikan dengan timer.

5. Fotografi Fisheye




Fisheye memanfaatkan lensa fisheye dengan pandangan melingkar 180 derajat. Fotografer dapat menghasilkan foto dengan perspektif yang sangat berbeda, baik itu indoor atauoutdoor. Angle yang super lebar dengan titik fokus tertentu mampu memberikan warna berbeda di foto yang dihasilkan. Pada awalnya, lensa fisheye dibuat untuk memotret seluruh awan demi kepentingan penelitian di bidang meteorologi.

Baca juga artikel berikut :




Categories: Share

Leave a Reply